HIDUP DENGAN RASA PAHIT

 Hidup dengan segala macam rasa pahit  tidak sama sekali meragukannya untuk terus berjuang mencari nafkah demi memberi anak-anaknya makan dan bisa bersekolah. Keringat yang menetes pun tak  menghalangi terkembangnya sebuah senyum di bibirnya saat kami bertemu. Raut wajahnya sedikit lelah, namun ia tak menggubrisnya.

Hari ini aku merasa sangat beruntung bisa kuliah di Universitas Muhammdiyah Prof. Dr. Hamka, melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ( PKM) yang di adakan oleh fakultas ekonomi dan bisnis Uhamka aku jadi lebih memaknai arti kata bersyukur, memberi, dan peduli terhadap sesama.

Minggu , 14 Juni 2020 adalah hari yang tidak terlupakan bagiku. Saat aku dan kedua teman ku sedang melakukan survei ke desa Susukan, Jakarta timur aku melihat seorang ibu duduk merenung menunggu hadirnya seorang pembeli. Sambil menghitung beberapa lembar uang sepuluh ribuan dan beberapa keeping uang receh.

 “kasih ibu sepanjang jalan” pepatah  itulah yang dijalankan oleh Ibu Mini (40) warga desa Susukan,Jakarta Timur. Demi  untuk membiayai biaya pendidikan anaknya di kampong ,dia rela berkeliling kampong untuk berjualan makanan.

Malam hari ia pergi kepasar untuk membeli bahan baku makanan. Subuh ia mulai membuat berbagai makanan kecil seperti bakwan, lupis, gemblong, bugis pisang, gethuk dan makanan lainnya.

Pagi hari sekitar pukul 07.00 ia pun berangkat dengan membawa keranjang dan tampah dari rumahnya untuk menjajakan makanan dari rumah ke rumah sejauh lebih kurang 3km dari rumahnya. Pulang kerumah sekitar pukul 10.00.

“ya beginilah neng beratnya menjadi orang tua, untuk membantu suami menyekolahkan anak-anak dan membayar sewa kontrakan setiap hari saya berjualan keliling. Apalagi lagi ibu dan suami baru merantau dari Sumatera Barat”. Ucap ibu mini ketika menjajakan makanannya.

 Dengan berbekal tampah dan keranjang yang penuh dengan makanan ia menyusuri gang-gang sempit sambil menawwarkan makanan berbagai jenis. Harga yang ia tawarkan cukup murah meriah dari Rp 1.000 baik gorengan ataupun makanan lainnya. Sekali ia berhenti ,ia mendapatkan rp 5.000 – rp 20.000.

Meskipun harus berpindah-pindah tempat namun karena terbiasa maka tiada berat ia rasakan apalagi jika dagangannya habis, dalam hatinya sangat bersyukur sekali berarti ia mendapatkan keuntungan yang lumayan.

“ya namanya berdagang kadang habis kadang juga masih, sebelum ada pandemic corona dagangan ibu bisa di bilang lebih banyak habisnya ketimbang masihnya. Jika dagangannya ada sisa ya dibawa pulang untuk dimakan atau berbagi ketetangga” tambah ibu Mini.

Sementara itu , ibu Roro salah satu pelanggan ibu Mini mengatakan, makanan yang dijajakan oleh ibu mini tergolong murah oleh karena itu jika ibu Mini datang, ia memborong berbagai makanan itu untuk anak dan cucunya. “ kalau dia datang pasti anak-anak mengkerubunginya.” Ujar ibu Roro

Dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang kami lakukan ini, aku banyak belajar dari ibu Mini tentang rasa bersyukur, tentang berartinya hidup dan sebuah perjuangan. Betapa seoranng wanita dan sosok Ibu adalah orang yang sangat kuat dalam menghadapi hidup. Sabar dan tawakal dalam menjalani kehidupan sehari – hari demi untuk kelangsungan hidup dan biaya pendidikan anaknya.

Semoga aku yang dulunya tidak terlalu peduli terhadap lingkungan dan sesama, terlalu menyia-nyiakan waktu. Menjadi  lebih sadar dan lebih bersyukur terhadap Allah. Aamiin

About tohirin

Check Also

GELIAT DAKWAH DI TANAH PAPUA

Ibrahim Pua Deskripsi Propinsi Papua merupakan sebuah propinsi terluas Indonesia yang terletak dibagian tengah Pulau …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *