BADUY, KAPITALISASI KETERBELAKANGAN

Imron

Deskripsi

Suku Baduy, secara etimologi kata Baduy dipersamakan dengan kelompok atau kabilah Badawi di Arab yang merupakan masyarakat yang suka berpindah-pindah atau nomaden. Baduy sendiri adalah sebutan kepada warga Desa Kanekes yang dianggap sering berpindah-pindah tempat.Mungkin kita juga sering melihat Suku Baduy melakukan perjalanan jauh, itulah yang menyebabkan mereka disebut Baduy.

Wilayah suku Baduy secara geografis, Suku Baduy berada di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Jarak pusat dari Kota Rangkasbitung sekitar 40 km. dengan kecepatan normal saya menempuh perjalanan dari Rangkasbitung ke Desa Ciboleger selama 2 jam menggunakan motor. Wilayah Suku Baduy pada umumnya terletak pada daerah aliran sungai Ciujung di  kaki Gunung kendeng-Banten Selatan dengan ketinggian 300-600 meter diatas permukaan laut. Letaknya sekitar 172 km sebelah barat ibukota Jakarta; sekitar 65 km sebelah selatan ibukota Propinsi Banten.Tofografi wilayah Baduy berbukit dan bergelombang dengan kemiringan rata-rata mencapai 45O.Wajar jika banyak tamu atau pengunjung yang tak sanggup mencapai pemukiman warga Baduy Dalam.Tiga desa utama di Baduy adalah Desa Cikeusik, Desa Cikertawana, dan Desa Cibeo.

Lokasi yang dijadikan pemukiman pada umumnya berada di Lereng Gunung, Celah bukit, serta Lembah yang ditumbuhi pohon-pohon besar, yang dekat dengan sumber mata air. Semak belukar yang hijau disekitarnya turut mewarnai keindahan serta kesejukan suasana yang tenang. Keheningan dan kedamaian kehidupan yang bersahaja.

Masyarakat Baduy yang menempati areal 5.108 ha (desa terluas di Propinsi Banten) ini mengasingkan diri dari dunia luar dan dengan sengaja menolak (tidak terpengaruh) oleh masyarakat lainnya, dengan cara menjadikan daerahnya sebagai tempat suci (di Penembahan Arca Domas) dan keramat. Namun intensitas komunikasi mereka tidak terbatas, yang terjalin harmonis dengan masyarakat luar, melalui kunjungan. Menariknya, pola hidup masyarakat Baduy sampai saat ini tidak pernah berubah karena mereka ingin mempertahankan kekhasan mereka sebagai masyarakat yang unik, lain dari masyarakat yang lain. Karena itu, Baduy telah dijadikan salah satu asset wisata Banten, bahkan aset Nasional yang perlu dipertahankan dan dipelihara.

Penggunaan istilah orang Baduy atau orang Kanekes, tidak lebih dari upaya orang-orang luar Baduy memberi nama kepada kelompok masyarakat yang memang tinggal disekitar Gunung Badui dan Sungai Cibadui itu. Untuk sebutan orang Kanekes, namun orang Kanekes belum tentu orang Baduy karena di Desa Kanekes juga terdapat perkampungan masyarakat non-Baduy. Bagi masyarakat Baduy sendiri, tidak dikenal istilah orang Baduy, orang Kanekes, Baduy Dalam maupun Baduy Luar. Masyarakat di sana menggunakan istilah urang tonggoh atau urang girang atau urang tantu untuk menyebutkan Baduy Dalam. Sedangkan untuk Baduy Luar, mereka menggunakan istilah urang landeuh atau urang panamping. Istilah tersebut hingga saat ini masih dipergunakan. Orang Baduy tidak akan menyebutkan dirinya dari Baduy atau dari Kanekes. Mereka akan menyebutkan nama kampungnya, seperti urang Kaduketug untuk masyarakat Baduy yang berasal dari kampong  Kaduketug atau urang Cibeo bagi yang berasal dari kampong Cibeo.

Secara umum, Suku Baduy terbagi menjadi tiga kelompok yaitu Tangtu, Panamping, dan Dangka. Kelompok Tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Baduy Dalam, yaitu mereka yang tinggal di 3 (Tiga ) Desa utama yang saya sebutkan diatas. Ciri khas mereka Orang Baduy Dalam adalah memakai pakaian berwarna putih dan biru tua, celana putih serta memakai ikat kepala berwarna putih.Dari semua Suku Baduy, Baduy Dalam inilah yang masih memegang teguh adat-istiadat leluhur. Kelompok Penamping atau yang dikenal dengan Baduy Luar adalah mereka yang tinggal di kampung yang mengelilingi Baduy Dalam seperti: Cikadu, Kaduketug, Kadukolot, Cisagu, dan sebagainya.

Ciri khas pakaian Baduy Luar adalah menggunakan pakaian warna hitam dan biru tua, celana hitam, ikat kepala hitam dan tak sedikit yang menggunakan kaos dan celana jeans. Kelompok ketiga yaitu kelompok Dangka, yaitu mereka yang tidak tinggal di wilayah Kanekes. Ada dua desa luar Kanekes yang menjadi saringan atas pengaruh luar yaitu Desa Cibengkung, dan Desa Cihandam. Secara adat istiadat, Baduy Luar tetap mengikuti aturan nenek moyang yang dipegang teguh oleh warga Baduy Dalam. Perbedaan yang paling sering diketahui diantaranya:

  • Baduy Dalam dilarang menggunakan kendaraan untuk transpotasi, dalam arti kemana pun jalan kaki. Sedangkan Baduy Luar boleh menggunakan kendaraan motor, mobil, dan sebagainya.
  • Kemana pun jalan, Baduy Dalam dilarang menggunakan alas kaki, sedangkan Baduy Luar boleh menggunakan alas kaki. Tapi banyak juga Baduy Luar yang nyeker ( tidak pakai alas kaki ).
  • Baduy Dalam dilarang menggunakan alat elektronik, sedangkan Baduy Luar boleh.
  • Karena menolak produk luar, Baduy Dalam tidak menggunakan sabun, pasta gigi, dan lain-lain. Sedangkan Baduy Luar sudah menggunakannya.
  • Jika seorang Baduy Luar melanggar aturan dan adat-istiadat, maka ia akan terusir ke Baduy Luar. Selain dari itu, keinginan keluar dari Baduy Dalam serta pernikahan dengan orang luar mengharuskan mereka keluar dari wilayah Baduy Dalam.

Suku Baduy memiliki dua sistem pemerintahan. Pertama yang sesuai dengan pemerintahan Negara Indonesia dan kedua sistem pemerintahan adat-istiadat secara turun temurun. Sebagai tanda setia kepada Pemerintahan Republik Indonesia, setiap akhir tahun suku yang bejumlah kurang lebih 7.512 jiwa dan tersebar dalam 67 kampung ini mengadakan upacara Seba kepada “Bapak Gede” (panggilan kepada Bupati Lebak) dan Camat Leuwidamar. Pemimpin dari Negara disebut Jaro pamerintah, sedangkan pemimpin adat disebut Pu’un. Pu’un bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan hidup masyarakat yang dalam menjalankan tugasnya itu dibantu juga oleh beberapa tokoh adat lainnya. Pu’un  sangat dihormati dan disegani oleh warga Suku Baduy.

Warga Suku Baduy menganut kepercayaan Sunda Wiwitan, yaitu ajaran leluhur menghormati karuhun (arwah leluhur ) dan pemujaan pada roh kekuatan alam (animisme). Seiring waktu, sebagian warga Baduy Luar kebanyakan sudah memeluk agama yaitu Islam.

Mata pencaharian sebagian besar warga Suku Baduy adalah bertani padi huma (padi ladang), menanam dan menjual buah-buahan, hasil hutan, dan lainnya.Untuk kaum perempuan tidak boleh keluar dari wilayah Baduy.Aktifitas perempuan kebanyakan bertani, menggambil kayu bakar, atau membuat kerajinan tangan seperti menenun dengan model tenunan sarung dan selendang khas Baduy.

Kesamaan lain antara Baduy Dalam dan Baduy Luar seperti larangan untuk memelihara hewan berkaki empat kecuali anjing karena digunakan untuk berburu.Hewan berkaki empat seperti sapi, kambing, kerbau, kuda, dan babi menurut mereka merupakan binatang atau hewan yang merusak tanaman. Warga Suku Baduy, baik Baduy Dalam maupun Baduy Luarmenggunakan bahasa sunda (cenderung kasar). Mereka tidak mengerti bahasa sunda halus, tapi bisa berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia dengan baik.

Hampir seluruh warga Suku Baduy tidak mengenyam dunia pendidikan atau sekolah tapi jangan kaget jika mereka bisa membaca dan menulis. Apalagi berhitung uang. Saya banyak berbincang dengan warga Baduy Luar, ada beberapa anak yang sekolah. Itupun yang tinggal diperkampungan paling luar (dekat Terminal Ciboleger). Mungkin di desa lain juga begitu. Orang Cibeo, atau Suku Baduy Dalam sama sekali menolak segala bentuk modernisasi termasuk pendidikan formal yang menurut mereka tidak sesuai dengan adat-istiadat dari leluhur. Entah plesetan atau memang prinsip Orang Baduy, “ Kami mah embung sakola bisi pinter, lamun geus pinter minteran batur ”(Kami tak mau sekolah takut pintar kalau sudah pintar takut minterin atau nipu orang lain).

Aktifitas dakwah dilokasi pengabdian

 Adapun aktifitas dakwah dilokasi pengabdian pengabdian Da’i Lembaga Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah yaitu sebagai berikut:

  1. Menjadi Imam shalatdan Khotib Jum’at bertempat di Masjid Muhammadiyah Darul Muhsinin-Nagara (Leuwidamar) dan Masjid Nurul Jihad-Corogol (Muncang).
  2. Mengajar di SMPN 6 Leuwidamar, MI &MTs di Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Muhsinin.
  3. Membimbing Pengajian anak-anak/remajadi Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Muhsinin.
  4. Memakmurkan, dan melestarikan kebersihan Masjid  Muhammadiyah Darul Muhsinin.
  5. Pembinaan masyarakat Baduy muslim di Kampung Nagara, Desa Nayagati-Leuwidamarsampai Pemukiman Baduy muslim di Kampung Corogol, Desa Pasirnangka-Muncangdan sekitarnya.
  6. Pembinaan Ranting Muhammadiyah dilokasi tugas Da’i Khusus LDK PPM.
  7. Pembimbing LTQ (Lembaga Tahfidz Qur’an) di Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Muhsinin.
  8. Menjadi relawan kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan ke lokasi yang membutuhkan.

Tantangan dakwah dilokasi pengabdian

Adapun tantangan dakwah dilokasi pengabdian Da’i Lembaga Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah yaitu sebagai berikut:

  1. Ada saja orang yang menghambat / menghalagi tugas dakwah Da’i Khusus LDK PPM di lokasi tugas/pengabdian.
  2. Kurang adanya perhatian untuk kebersamaan dari jajaran persyarikatan setempat untuk membantu dakwah dilokasi tugas/pengabdianDa’i Khusus LDK PPM.
  3. Belum adanya para donator yang dermawan yang siap membantu demi kemajuan tugas dakwah di lokasi pengabdian Da’i Khusus LDK PPM.
  4. Belum adanya sarana/prasarana yang memadai untuk dakwah dilokasi tugas/pengabdianDa’i Khusus LDK PPM.

Peluang Pengembangan Dakwah

 Adapun peluang pengembangan dakwah dilokasi tugas pengabdian Da’i Lembaga Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyahadalah sebagai berikut:

  1. Kehadiran dakwah islamiyah sudah ada harapan dan pencerahan.
  2. Masyarakat awam sudah memahami dan mengerti tentang organisasi persyarikatan Muhammadiyah.
  3. Da’i Khusus LDK PPM telah membina masyarakat yang belum islam menjadi islam, dan yang sudah islam menjadi islam yang kaffah.
  4. Mengikis kegiatan pemurtadan misionaris kristenisasi atau aliran sesat dilokasi tugas/pengabdian Da’i Khusus LDK PPM atau di wilayah Baduy.
  5. Mengadakan perjanjian dengan pu’un dan jaro Baduy Dalam untuk membina masyarakat Baduy Luar. Agar masyarakat Baduy Luar jangan menganut ajaran selain Agama Islam.

FOTO RIHLAH DAKWAH DA’I KHUSUS LDK PP MUHAMMADIYAH  KE BADUY LUAR

About tohirin

Check Also

PEMBERIAN DARI HATI

Diawal tahun 2020 Indonesia banyak sekali mendapatkan musibah. Mulai dari malam pergantian tahun 2019-2020 turunnya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *