DAI DAN SEKOLAH REFORMASI

Hafizi

Karakteristik Daerah

            Amurang adalah sebuah kecamatan sekaligus Ibu kota Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, Indonesia. Selain itu terdapat kecamatan Amurang Timur dan Amurang Barat. Kantor Bupati Minahasa Selatan kini berada di Kelurahan Pondang, yang berada di wilayah kecamatan Amurang Timur, di bawah kepemimpinan Bupati C. Euginia Paruntu. Amurang sekarang ini sudah mulai dipenuhi pendatang dari berbagai suku bangsa, tetapi mayoritas masih orang Minahasa yang beragama Kristen.

Awal menginjakan kaki di tanah Sulawesi, tepatnya di Sulawesi utara di kabupaten Minahasa selatan kecamatan Amurang. Pertengahan Januari 2018 kami di berangkatkan ke Sulawesi sebagai tenaga dai dari LDK Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta Pondok kader hajjah Nuriyah Shabran, setiap tahun mengirimkan kader yang telah lulus dari kampus tersebut yang disebut sebagai pengabdian. Kami yang di berangkatkan ke daerah Sulawesi,  tugas yang di fokuskan kepada kami adalah sebagai tenaga pengajar, karena kebanyakan di daerah ini sangat membutuhkan tenaga pengajar untuk menghidupkan dan mengembangkan amal usaha di bidang pendidikan yang di rintis atau milik Muhammadiyah setempat.

            Kami dari 3 (tiga) dai yang di kirim pada periode tersebut bulan pertama kami di tempatkan satu tempat yaitu di rumah kediaman Pimpinan Daerah. Kami diberikan waktu bersama dalam satu bulan tersebut untuk beradaptasi dengan lingkungan Sulawesi namun dalam waktu tersebut kami juga tetap bertugas untuk mengajar di sekolah yang dirintis Pimpinan Wilayah yaitu sekolah Islam yang berjenjang menengah pertama dan menengah atas bisa juga di sebut MTS dan MA. Dalam masa proses adaptasi tersebut kami juga sempat merasa sedikit kesulitan untuk mengajar kepada siswa madrasah di tempat tersebut. Mungkin kalau dibandingkan dengan pelajar di daerah Jawa sangat jauh perbedaannya mulai dari system pembelajaran dan seterusnya.

Di tempat ini kalau kami melihat pelajarnya sangat ingin belajar namun melihat kebiasaan mereka mungkin bisa dikatakan mereka seperti tidak ingin belajar. Karena kondisi setiap kelas bisa dikatakan kurang disiplin, efektif atau sulit untuk mengkondisikan situasi kelas selayaknya kelas dalam proses belajar. Kebiasaan yang kami maksud adalah berbicara, usil terhadap teman, bahkan sampai bermain ketika jam belajar sedang berlangsung. Kami tidak tahu apakah semua sekolah memiliki kebiasaan tersebut atau hanya sekolah itu, karena sebelumnya memang tenaga pengajarnya sangat kurang terhitung enam kelas namun tenaga pengajar hanya 3-4 guru saja.

Aktifitas Dakwah

            Sebulan berjalan di Kecamatan Amurang, kami mulai dikumpulkan oleh Pimpinan Wilayah dalam rangka pembagian tempat tugas. Yaitu saya sendiri hafizi di daerah kabupaten Minahasa Selatan, Teguh Khairul Zein daerah kota kotamobagu, dan Deni Alfian tetap di kediaman Pimpinan Wilayah atau pak Nasruddin Yusuf. Kami mulai di sebarkan ke tempat yang telah di sampaikan.

            Pada bulan Februari tepatnya minggu ke tiga dari bulan tersebut kami pun diberangkatkan. Dalam keberangkatan tersebut kami di saksikan siswa dari sekolah yang sempat kami sebulan mengajar di sana, menjelang keberangkatan adik-adik pada berkunjung ke tempat kediaman kami, mereka menyampaikan sesuatu kepada kami kak jangan pergi kami tetap ingin di ajar oleh kakak-kakak, kalau kakak pada pergi terus siapa yang akan mengajar kami, selama ini kami merasa senang di ajar oleh kakak-kakak kami sangat gembira jika guru di sekolah kami mencukupi sehingga ketika jam belajar semua ruangan ada gurunya tidak seperti sebelumnya kami diajar tiga guru saja, sehingga satu guru memegang dua kelas setiap jam pelajaran berlangsung. Kami merasa tersentuh dan perihatin mendengar ucapan adik-adik tersebut, namun apa boleh buat kami tetap harus berangkat, karena di tempat lain juga sudah menunggu kedatangan kami.

            Kami berangkat ke tempat tugas kami masing-masing, saya berangkat ke minhasa selatan Kecamatan Amurang, kelurahan Ranoiapo. Saya diantar ke Manado oleh pak Nasrudin, sampai di manado saya di jemput oleh Pimpinana Daerah Muhammadiyah Minsel. Saya pun berkenalan dengan PDM Minsel yang bernama pak Haziyar Mansyur Sati, bersama dengan sekretaris beliau pak Faisal Saman. Kemudian setelah itu melanjutkan perjalanan dari Manado ke Minsel sekitar satu jam lebih atau hampir mencapai dua jam perjalanannya. Setelah sampai di sana, saya ditempatkan dirumah salahsatu pengurus Muhammadiyah Pimpinan Cabang Amurang, rumah pak Ruslan Uda’a. sesampai di rumah beliau kami memulai percakapan sampai menikmati hidangan kopi dan roti (kukis).

            Adapun yang pertama menyampaikan tentang tugas yang akan saya jalankan selama di tempat tersebut adalah pak Hajiar, beliau memulai menceritkan tentang suatu sekolah Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Amurang. Beliau menyampaikan bahwa sekolah tersebut sangant membutuhkan seorang guru. Beliau pun mulai menceritakan sedikit tenteng perjalanan sekolah tersebut.

            Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Amurang (MIM Amurang), tepatnya tahun sebelumnya sekolah tersebut sempat berhenti beberapa bulan terhitung dari pertengahan bulan September hingga awal Januari. Sekolah tersebut tahun ketahun selalu mengalami permasalahan yang seharusnya tidak terjadi pada sekolah Muhammadiyah pada umumnya. Permasalahan yang sering terjadi tersebut dilatar belakangi oleh guru-guru yang di rekrut bukanlah seorang yang mengerti Muhammadiyah namun mereka masyarakat biasa yang sebagian sudah berjenjang sarjana dan ada juga yang belum sarjana namun dalam proses pengambilan gelar tersebut. Rata-rata di sekolah Sulawesi ini mendapatkan dana BOS dari pemerintah baik itu sekolah negeri dan juga swasta.

            Permasalahan yang sering terjadi dan begitu krusial ini hampir setiap tahun terjadi di sekolah tersebut yaitu penggelapan dana BOS. Hal ini ditelusuri oleh para Penguurus Muhammadiyah, karena setiap tahun dana itu pasti turun namun melihat perkembangan sekolah tidak terlihat sama sekali baik perbaikan secara fisik atau perbaikan dalam system. Hingga puncak kemarahan oleh Pimpinana Muhammadiyah setempat meluap dan mengumpulkan seluruh tenaga pengajar untuk mengevaluasi dan mempertanyakan untuk memastikan asumsi yang mereka rasakan.

Namun dalam proses berjalannya evaluasi tersebut jawaban para tenaga pengajar atau Kepala Sekolah pada saat itu tidak memberikan jawaban yang bisa diterima untuk menghilangkan asumsi para Pengurus Muhammadiyah tersebut. Sehingga meluaplah suatu kemarahan dengan mengungkapkan bahwa kepala sekolah akan di ganti, dikarenakan tidak bertanggung jawab atas tugasnya selama menjadi Kepala Sekolah tersebut. Tak lama kemudian ternyata guru-guru sekolah tersebut sudah ada kesepakatan sebelum pertemuan itu, bahwa ketika satu dari kita di keluarkan dari sekolah ini, maka kita harus keluar semua. Ketika selasai penyampaian dari seorang pengurus, kemudian ditanggapi salah seorang guru dengan ungkapan jika Kepala Sekolah diganti maka kami seluruh guru ikut keluar bersama Kepala Sekolah. berlangsungnya rapat tersebut maka keputusan tetap Kepala Sekolah diganti dan guru-guru ikut mengundurkan diri.

            Keesokan harinya Pengurus Muhammadiyah terpaksa mengedarkan surat kepada seluruh orangtua siswa bahwa sementara waktu sekolah diliburkan menunggu sampai ada tenaga pengajar yang cukup untuk mengoperasikan sekolah tersebut. Para Pengurus merasa kebingungan bagaimana mencari tenaga pengajar agar sekolah itu tetap berjalan kembali agar anak-anak yang sekolah di sekolah tersebut mendapat pengajaran kembali. Warga Muhammamadiyah sembari berusaha untuk mencari tenaga kerja dan sambil mencari solusinya, dikarenakan sudah berjalan beberapa bulan sekolah tersebut belum juga beroperasi hingga mendekati bulan Desember yang dimana dalam kalender pendidikan akan dilaksanakan ujian semester ganjil.

Ada solusi sementara harus ada yang siap dari warga Muhamamdiyah untuk untuk memegang dan mengopersaikan sekolah tersebut, sembari mencari tenaga pengajar yang sarjana dan bisa sebagai pengganti Kepala Sekolah dan guru di sekolaha tersebut, hingga di datalah dari warga yang siap dan telah lulus Sekolah Menengah Atas. Ada beberapa orang yang bersedia dan sekolah di operasikan kembali, dengan kondisi yang krisis karena harus menyelamatkan masa depan anak-anak. Hingga berlangsung dalam waktu sebulan ujian semester terlaksana dan mulai libur semester sampai bulan Januari. \

Selama berlangsungnya masa libur di situlah para warga mulai mencari kembali tenaga pengajar untuk sekolah tersebut, harus tercapai hingga selesai masa libur. Singkat cerita maka ada beberapa sarjana yang bersedia menjadi tenaga pengajar di sekolah tersebut dengan jumlah 4 (empat) orang tengana pengajar yang sarjana dan 2 (dua) guru yang belum sarjana, dengan adanya tenaga tersebut sekolah itupun terselamatkan dari masa kritis, dan beroperasi kembali selayaknya sekolah yang memilki Kepala Sekolah dan tenaga pengajar. Hingga berakhirnya masa libur awal Januari sekolah kembali berjalan seperti biasa. Dengan terjadinya permalsalahan tersebut sebagian warga Muhammadiyah menamainya sekolah reformasi.

            Alhamdulillah ketika saya masuk di sekolah yang baru beroperasi satu bulan lebih ini kondisinya yang sudah mulai stabil. Seusai cerita tentang tersebut maka para pengurus meminta saya untuk fokus pada mengajar anak-anak dan pengembangan sekolah apa yang harus dipebaiki. Mungkin tugas kami tidak seperti dai yang dikirim ke daerah lain, karena kabanyakan mereka bertugas untuk masyarakat dengan dakwah yang luas, menghidupkan jamaah, dan menjalankan pengajian dan lain sebagainya. Namun kami beda hanya diprioritaskan untuk mengajar dan selebihnya jika berkenan ikut dalam kegiatan Muhammadiyah. Pada saat itu saya sempat bertanya sebelum saya menyampaikan tugas kami sebenarnya sebagai dai yang dikirim. Dengan pertanyaan apakah ada masjid di daerah sini masjid yang khusus di dikelola dan didirikan oleh warga Muhammadiyah.

Kemudian di sini tidak ada masjid Muhammadiyah yang ada hanya satu masjid untuk jamaah dalam satu kecamatan ini, masjid itu biasa di namai masjid besar Amurang namun jamaahnya kebanyakan dari warga Nahdatul Ulama dan warga yang tanpa mengikuti ormas, dan sedikit dari jamaah tabligh, kemudian ada sebuah musolla di dekat laut namun itu di dirikan bukan karena awalnya ingin mendirikan musolla itu tetapi karena kekecewaan salah seorang jamaah yang tidak dipilih sebagai iman di masjid tersebut dan tidak juga di ikutkan dalam kepengurusan masjid. Dan dalam struktur kepengurusan masjid besar tersebut banyak yang dari wrga NU, sehingga Muhammadiyah kalau ada kegiatan hanya di lingkungan sekolah, dan terkadang di rumah warga.

Tantangan Dakwah Muhammadiyah

            Saya menceritakan tugas kami yang telah digariskan oleh penyelenggara program ini, diantaranya, membantu persyarikatan, menghidupkan dakwah di tempat yang ditugaskan, dan membantu amal usaha yang ada di tempat kami di tugaskan. Namun yang paling pokok adalah menghidupkan dakwah atau kegiatan keagamaan di masayarakat. Kemudian salah seorang menegaskan berarti jika kamu fokus dalam mengajar kamu juga tidak melenceng dari tugasmu, karena mengajar itu sudah membantu warga Muhammadiyah di sini untuk menghidupkan amal usaha, dakwah dengan pengajian di sini juga kurang efektif, karenai system dakwah pengajian seperti yang di jawa, kurang memberikan pemahaman kepada masyarakat. lagian di sini juga banyak ustad yang sudah berperan dalam dakwah masyarakat. Masyarakat kurang peduli dengan penyampaian ustad, bahkan makin banyka ustad itu menyampaikan sesuatu maka maka makin banyak masyarakat yang tidak suka dengan ustad itu, dan itu bukan satu ustad saja, ustad-ustad itu juga da’i kiriman dari luar daerah ini. Karena kebanyakan masyakat di sini pengirman da’i dari luar atas nama suatu lembaga atau organisasi Islam, masyarakat di sini kenbanyakan tidak berorganisaai. Coba lihat saja nanti ketika ada kegiatan di masjid yang mangatas namakan lembaga atau organisasi dengan kegiatan yang di atas namakan program masjid, maka yang paling rame adalah program masjid.

            Dalam hal ini saya pun memahami kenapa saya ditugas kan untuk mengajar di sekolah ini. Kemudian ada tambahan dari seorang namun nanti kalau ada pengajian kamu boleh ikut gabung dan kalau boleh kamu sekali-kali jadi pemateri.

            Sayapun sedikit kebingungan dan merasa apakah saya sanggup fokus untuk mengajar sementara saya bukan lulusan seorang untuk pendidikan, dan pengalaman saya untuk mengajar sangat sedikit, saya masih ingat pertama saya mengajar di TPA masjid Ahmad Dahlan, di belakang relasi solo, itu juga hanya beberapa bulan. Dan ini saya sampaikan juga kepada para Pengurus Muhammadiyah yang ikut duduk bersama pada saat itu, dan mereka merasa yakin kalau saya bisa. Dan saya pun mencoba menjadi seorang guru untuk anak-anak tingkat sekolah dasar yang berbasis Islam tersebut. Dari awal masuk mengajar hingga beberapa bulan saya ditufgaskan sebagai Wali Kelas, yaitu memegang kelas lima. Saya untuk menyesuaikan diri kembali dengan lingkungan masyarakat, guru, dan anak-anak di tempat bertugas, sampai bulan Ramadhan saya belum merasakan cocok dengan lingkungan tersebut mulai dari makanan hingga kebiasaan sehari-hari. Sehingga menjalankan tugas mengikuti alur saja, mengajar terkadang ikut kegiatan Muhammadiyah dan kegiatan masjid.             Mungkin ini adalah cerita singkat awal pengabdian bagi kami terutama saya sendiri, dalam hal ini saya berpikir Muhammadiyah ini besar, dan sudah banyak prestasi yang dibangun dalam masyarakat dalam bidang kehidupan. Namun kenapa masiha ada amal usaha yang tidak mendapat perhatian sama sekali, sehingga banyak orang perihatin ketika melihat amal usaha yang belum begitu terperhatikan. Berbicara kader dan tenaga kemanusiaan Muhmmamadiyah sangat menyediakan orang-orangnya (kader) dari segi materi atau anggaran Muhammadiyah memiliki lazismu. Apakah ini kurang koordinasi atau kepenguruasan Muhammadiyah di tempat yang seperti ini harus menggunakan tenaga yang extra untuk membangun Muhammadiyah. Kalau di ibaratkan di tempat lain daerah jawa mungkin Muhammadiyah rata-rata tahap pengembangan namun di daerah seperti ini tahap melewati masa kritis untuk bertahan tetap hidup. Di lain sisi juga program seperti ini juga sangat membantu tempat yang kondisi seperti ini, namun kalau persyarikatan mampu membuat programa yang lebih dari ini untk membantu dan membangun Amal Usaha yang dalam tahap seperti ini.

About tohirin

Check Also

PEMBERIAN DARI HATI

Diawal tahun 2020 Indonesia banyak sekali mendapatkan musibah. Mulai dari malam pergantian tahun 2019-2020 turunnya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *