MENGABDIKAN DIRI DI TANAH TAOPA

Ikhwanul Bahari Sopalatu

Karakteristik Daerah

Taopa adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Kecamatan Taopa merupakan hasil pemekaran Kecamatan Maotang yang dibentuk melalui peraturan daerah Kabupaten Parigi Moutong No. 13 Tahun 2006. Kecamatan ini berjarak sekitar 278 km dengan waktu tempuh kurang lebih 5 sampai 6 jam perjalanan dari ibu kota Kabupaten Parigi Moutong. Taopa terletak di sebelah utara Parigi. Pusat pemerintahannya berada di Desa Taopa  Batas wilayah Kecamatan Taopa adalah sebelah utara Kabupaten Buol, sebelah selatan Kabupaten Tomini, sebelah barat Kabupaten Bolano Lambunu, dan sebelah timur Kecamatan Moutong.

Luas Kecamatan Taopa sekitar 170,372 km2 dengan jumlah penduduk kurang lebih 14.000 jiwa. Kecamatan Taopa berasal dari sebagian wilayah Kecamatan Mautong Kabupaten Parigi. Pada awal terbentuknya Kecamatan Taopa hanya terdiri dari 6 desa yaitu: Desa Karya Agung, Desa Nunuranti, Desa Palapi, Desa Taopa, Desa Tuldenggi Sibatang dan Desa Tompo.

Masyarakat Taopa sangat menghargai harkat hidup orang dan terbuka terhadap hal-hal yang baru. Secara garis besar masyarakat Taopa sudah mengalami perubahan yang signifikan dalam segala aspek, baik aspek keagamaan maupun aspek lainnya. Meskipun demikian, masih banyak diantara mereka yang awam terhadap agama. Kelompok ini masih menjalankan tradisi yang diajarkan oleh nenek moyang mereka. Tatacara keberagamaan mereka masih dipengaruhi oleh tradisi nenek moyang.

Agak sulit dan mesti berhati-hati untuk berdakwah di tempat ini, terutama saat mengajar anak-anak. Salah sedikit dalam menghadapi anak-anak ini bisa-bisa kena damprat orangtua mereka. Para orangtua seringkali membela anak-anak mereka jika satu saat anak mereka misalnya ditegur oleh pengajar meskipun itu sebenarnya untuk kebaikan mereka sendiri.

Taopa dikenal dengan julukan daerah X, yaitu satu daerah yang terkenal dengan rawan karena banyaknya tindak kriminal di tempat ini. Minuman keras dan narkoba merajalela di tempat ini. Kebanyakan pemuda adalah pengangguran sehingga rentang dengan perilaku menyimpang dan aksi-aksi kriminal. Di antara mereka juga banyak yang putus sekolah atau yang di daerah itu disebut “patah pensil”. Mereka kemudian menggelandang dan membuat kericuhan di tengah masyarakat.

Aktifitas Dakwah

Berdakwa di daerah semacam ini tidak cukup dengan bekal penguasaan ilmu agama. Namun memerlukan strategi khusus. Tanpa strataegi yang tepat, dai bisa diusir dari tempat ini. Dai harus pandai bergaul dan memahami karakteristik masyarakat dengan baik. Dakwah harus dilakukan dengan bijak dan penuh kehati-hatian, menggunakan pendekatan yang dan nasihat-nasihat yang selaras dengan budaya mereka untuk mengarahkan mereka ke jalan yang baik arif (bi al-hikmah wa al-mau’idzatil hasanah).

Saya sendiri memilih berdakwah melalui institusi pendidikan formal. Strategi ini lebih bisa diterima mengingat pendidikan formal merupakan salah satu kebutuhan masyarakat dewasa ini. Saya menjadi seorang guru yang mengampu mata pelajaran Keislaman, Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab (ISMUBA) di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah. Selain itu saya juga mengajar di Taman Pendidikan al-Qur’an “Al-Hidayah” desa Taopa.

Selain ini saya juga aktif mengisi pengajian di masyarakat, terutama pengajian yang diadakan oleh Muhammadiyah, baik tingkat ranting maupun cabang. Salah satu tempat pengajian yang sering saya kunjungi adalah pengajian Pimpinan Cabang Aisyiyah Taopa yang membahas tentang kitab-kitab yang ada dalam Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah (HPT). Di samping itu saya juga aktif mengisi pengajian di masyarakat umum.

Tantangan Dakwah

Setiap dai pasti mendapati hambatan dalam berdakwah. Begitu juga dengan yang saya alami sebagai seorang dai Muhammadiyah. Hambatan dan tantangan itulah yang membuat saya dituntut untuk belajar lebih banyak sehingga dapat menghadapi semuanya dengan baik. Salah satu tantangan yang saya hadapi adalah maraknya tindak kriminalitas yang dilakukan oleh para remaja. Kurangnya pendidikan dan banyaknya pemuda yang putus sekolah membuat para pemuda ini menjadi pengangguran dan banyak melakukan tindak kriminal. Tak mudah mendakwahi anak-anak ini. Bahkan seringkali para remaja inilah yang menghambat perjalanan dakwah.

Namun dengan pendekatan yang tepat, masyarakat Taopa kemudian menerima saya. Masyarakat Taopa mayoritas adalah jamaah  al-Khaerat yang didirikan oleh Syekh Idrus Bin Salim Al-Jufri yang lebih dikenal dengan panggilan Guru Tua. Namun mereka tidak mempermasalahkan saya meskipun saya dai Muhammadiyah. Pimpinan Cabang Muhammadiyah Taopa menurut saya juga cukup tegas dalam berdakwah. Muhammadiyah secara diperkenalkan secara terang benderang. Awalnya memang kurang mendapat respon.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, Muhammadiyah sudah mulai mendapatkan perhatian dari kalangan masyarakat bahkan ada yang mau bergabung dan menerima Muhammadiyah sebagai tempat belajar mereka untuk mengenal Islam lebih mendalam.Sayangnya justru di kalangan pimpinan Muhammadiyah sendiri di tempat ini belum begitu paham sepenuhnya tentang manhaj Muhammadiyah. Semangat ada, tapi pengetahuan masih kurang.

Suatu ketika saya menjadi imam di masjid al-Hidayah. Selesai shalat saya mendapati seorang seorang jamaah yang sedang menegur jamaah lain yang sedang berdoa dengan suara lirih. Menurutnya cara berdoa itu tidak sesuai Rasul. Melihat kejadian itu saya langsung menghampiri mereka dengan maksud ingin memberikan penjelasan yang benar. Namun jamaah yang menegur tadi terlihat tidak berkenan. Ia langsung pergi dengan alasan ada urusan lain.

Kurangnya pemahaman keislaman ini menyebabkan masyarakat Taopa menjalankan kegiatan agama sehari-hari hanya berpedoman kepada apa yang telah diajarkan oleh orangtua mereka terdahulu. Mereka menganggap bahwa hal tersebut sudah benar sehingga tidak mudah untuk diingatkan. Menghadapi hal semacam ini saya sadar bahwa tugas saya di sini adalah memberikan pencerahan kepada masyarakat agar keberagamaan mereka berbasis ilmu.

Peluang Dakwah

Peluang dakwah di daerah ini terlihat makin baik. Saat ini masyarakat sudah relatif terbuka dan mau menerima perubahan. Bahkan masyarakat sudah menyadari bahwa kehadiran para dai mereka butuhkan untuk membawa perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Alhamdulillah, sekarang masyarakat Taopa yang sebagian besar adalah anggota jamaah al-Khairat mulai membuka diri dan mulai menerima hal-hal yang baru berkaitan dengan keagamaan. Bahkan mereka mau mendiskusikan dengan saya persoalan-persoalan yang membingungkan mereka selama ini. Mereka juga dapat menerima berbagai pendapat dan masukan yang saya berikan.

 Hai ini tentunya merupakan peluang yang sangat menggembirakan. Muhammadiyah dengan karakteristik modern-nya akan memberikan warna tersendiri pada masyarakat Taopa. Namun demikian tetap perlu satu kehati-hatian agar mereka tidak salah paham dengan dakwah Muhammadiyah. Dengan penuh semangat saya terus berjuang untuk menegakkan Islam sesuai dengan ajaran Rasul di daerah ini. Semoga Allah senantiasa memberi kemudahan dan melapangkan jalan dakwah yang saya jalani.

About tohirin

Check Also

PEMBERIAN DARI HATI

Diawal tahun 2020 Indonesia banyak sekali mendapatkan musibah. Mulai dari malam pergantian tahun 2019-2020 turunnya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *