Sinar Muhammadiyah

Abdul Aziz Hasyim

Karakteristik Daerah

Lokasi pengabdian saya di pelosok Kalimantan Tengah, tepatnya di Kabupaten Pulang Pisau.  Pulau Pisau sangat jauh dari pusat kota dan termasuk daerah 3 T (terpencil, terdalam dan terisolir). Pemandangan alam di daerah ini masih sangat asri karena dikelilingi oleh hutan yang lebat sehingga menjadi pemandangan yang menyejukkan bagi siapa saja yang berkunjung ke daerah ini. Masyarakat Kabupaten Pulau Pisau memiliki berbagai macam keyakinan terdiri dari Islam, Katolik, Kaharingan dan Hindu Bali. Namun demikian masyarakat Kabupaten Pulau Pisau hidup dengan rukun meskipun mereka berbeda keyakinan.

Kabupaten Pulau Pisau merupakan tempat yang cocok untuk menjalankan kegiatan dakwah karena kabupaten ini masih dalam tahap perkembangan. Daerah ini masih sangat membutuhkan dai-dai Islam. Selain para dai Islam di daerah ini juga banyak berdatangan para misionaris Katolik dan Kristen yang sangat gencar dalam melaksanakan dakwah mereka untuk mengajak masyarakat Pulau Pisau agar mengikuti agama mereka.

Aktivitas Dakwah

Hari pertama dalam memulai dakwah di daerah ini ada perasaan ragu di dalam hati saya. Hal ini disebabkan daerah ini  tidak sesuai dengan apa yang saya gambarkan selama ini. Keberadaan Muhammadiyah di Kabupaten Pulau Pisau masih dalam tahap perkembangan. Satu-satunya masjid yang dimiliki Muhammadiyah sebagai tempat pusat dakwah belum jadi seratus persen. Selain masjid, Muhammadiyah juga memiliki sebuah TK Aisyiyah dan satu kampus cabang Universitas Muhammadiyah Palangkaraya.

Saat itu pengurus masjid Muhammadiyah belum dibentuk sehingga pelaksanaan kegiatan sehari-hari belum teratur. Sayalah waktu itu yang memulai. Saya menjadi muadzin imam shalat. Awalnya saya sempat ragu untuk melanjutkan dakwah di daerah ini. Namun setelah saya pikirkan masak-masak akhirnya saya memantapkan niat untuk terus berdakwah. Semua kesulitan saya hadapi. Saya bertekad akan mengibarkan dawah Muhammadiyah di pulau ini.

Kegiatan awal yang saya lakukan untuk memulai dakwah adalah mendirikan Tempat Pembelajaran al-Quran (TPQ).  Karena jarak masjid yang terletak di lintas Kalimantan dengan rumah warga terbilang berjauhan menjadi kendala bagi saya untuk mencari santri untuk belajar al-Quran. Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya berhasil mengumpulkan santri satu demi satu sampai berjumlah 20 santri tetap dan terdaftar sampai akhir pengabdian saya di Pulau Pisau ini.

Setelah membentuk TPQ saya berpikir bagaimana caranya menghidupkan kegiatan masjid sehingga masyarakat Pulau Piasu terlibat dalam kegiatan-kegiatan masjid. Langkah awal yang saya lakukan adalah mengajar di MTsN Pulau Pisau. Meskipun saya berasal dari Muhammadiyah yang bagi masyarakarat masih agak asing, namun dengan menunjukkan loyalitas dan totalitas di sekolah ini, akhirnya saya dapat diterima dengan baik. Sembari mengajar saya mencari kader-kader muda yang bisa saya libatkan dalam kegiatan-kegiatan masjid Muhammadiyah. Berkat loyalitas dan totalitas yang saya berikan, alhamdulillah saya mendapatkan kepercayaan besar dari kepala sekolah untuk membina anak- anak dalam kegiatan pramuka. Saya selalu melibatkan anak-anak pramuka dalam kegiatan kemuhammadiyaan seperti pengajian, bakti sosial, dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Setelah Muhammadiyah mulai diterima di masyarakat Pulau Pisau, saya mulai membentuk organisasi otonom Tapak Suci Putra Muhammadiyah. Pembentukan Tapak Suci Putra Muhammadiyah ini bertujuan untuk menambah kegiatan kelompok atau individu yang lebih variatif, sehingga kegiatan kemuhammadiyahan lebih menyenangkan dan dapat diterima dengan baik. Selanjutnya untuk meneruskan generasi muda Muhammadiyah di Pulau Pisau maka dibentuklah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pulau Pisau. Keberadaan IMM ini sangat membantu perkembangan dakwah Muhammadiyah di pulau ini hingga sekarang.

Kegiatan dakwah lain yang saya lakukan adalah mengajar di TK Aisyiyah. Saya juga aktif mengisi pengajian yasinan ibu-ibu maejlis taklim di sebuah komplek perumahan dengan harapan bisa memasukkan unsur kemuhammadiyahan di dalamnya. Pengajian rutin kemuhammadiyahan juga berjalan dengan baik di masjid Muhammadiyah pada setiap Selasa malam. Ada berbagai macam kegiatan kemuhammadiyahan yang dilakukan di Pulau Pisau. Dokumentasi tantang berbagai macam kegiatan ini saya dokumentasikan dalam bentuk foto. Saya juga menulis dan mengirim beberapa diantara ke untuk diterbitkan di majalah Suara Muhammadiyah

Tantangan dakwah yang saya temui di Pulau Pisau ini sangat kompleks. Banyak masyarakat yang masih salah paham dengan Muhammadiyah. Dengan tekun saya terus mengenalkan Muhammadiyah kepada masyarakat. Alhamdulillah dengan melakukan komunikasi yang baik dengan masyarakat akhirnya Muhammadiyah dapat diterima di tengah-tengah keberagaman masyarakan Pulau Pisau. Konsep dakwah yang bervariatif seperti kegiatan-kegiatan kemuhammadiyahan yang menyenangkan, berbagi bersama Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (LAZISMU) dan pengadaan perpustakaan bergerak sangat menyentuh hati masyarakat Pulau Pisau sehingga mereka dapat menerima Muhammadiyah dengan baik. Keberadaan sekolah di pulau ini hingga saat ini masih sedikit. Oleh karenanya, penambahan jumlah sekolah Muhammadiyah menjadi salah satu langkah efektif dalam mengembangkan dakwah di daerah ini. Sekolah menjadi sarana yang efektif untuk berdakwah. Selain masyarakat lebih mudah menerima Muhammadiyah melalui lembaga pendidikan formal ini, mereka juga mendapatkan status pendidikan formal yang memadai sehingga dapat menjadi bekal hidup di alam modern dewasa ini.

About tohirin

Check Also

PEMBERIAN DARI HATI

Diawal tahun 2020 Indonesia banyak sekali mendapatkan musibah. Mulai dari malam pergantian tahun 2019-2020 turunnya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *